HIMPALAUNAS.COM, JAKARTA – Operasi search and rescue (SAR) telah dilakukan oleh tim SAR gabungan TNI, Polri, Basarnas (Badan SAR Nasional), dan Mapala, sejak dinyatakan jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100 di kawasan Gunung Salak, Bogor, Jawa Barat, Rabu (9/5) lalu.
Lalu, apakah operasi SAR itu? Operasi SAR adalah suatu tindakan pada kejadian khusus yang diperlukan adanya suatu kerjasama, koordinasi dan penjabarannya menjadi suatu bentuk kegiatan operasi yang serasi, efektif, dan berdaya guna. Sehingga dalam suatu kejadian SAR diperlukan personil yang mempunyai kriteria-kriteria tertentu yang mengutamakan kemanusiaan diatas segala-galanya, walaupun tidak mengabaiakan faktor keselamatan personil bersangkutan.
Operasi SAR yang dilakukan oleh tim gabungan pada pencarian dan evakuasi korban pesawat buatan Rusia ini memang menanggung beban berat atas keberhasilannya operasi tersebut.
Menurut salah satu anggota Himpunan Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Nasional (Himpala Unas) yang pernah mengenyam pendidikan SAR dari Basarnas, Adi Imam Santoso mengatakan, keberhasilan suatu operasi khususnya operasi SAR tergantung antara lain pada penerapan prosedur-prosedur yang berlaku dan dukungan oleh organisasi yang baik dan efektif.
“Untuk melaksanakan tugas operasi SAR, diperlukan adanya prosedur operasi yang benar dan koordinasi yang mantap agar efektif dan berhasil baik,” katanya kepada HIMPALAUNAS.COM.
Dikatakannya, dalam menangani suatu musibah, dikenal adanya organisasi dan komponen yang baku dalam organisasi tersebut. “Besar-kecilnya organisasi operasi disesuaikan dengan jenis musibah dan wilayah yang ditanganinya,” ujar lelaki berperawakan besar ini.
Ia menjelaskan, untuk keberhasilan suatu operasi SAR, maka harus dilalui tahapan-tahapan kegiatan. “Kecepatan pelaksanaan operasi, dipengaruhi kecepatan penanganan musibah tahap demi tahap hingga operasi dinyatakan selesai,” paparnya.
Pada kejadian pesawat Sukhoi, ada beberapa pihak, khususnya keluarga korban, yng menyayangkan lambatnya proses pencarian dan evakuasi korban. “Tidak bisa juga dibilang begitu. Tim kan sudah berusaha maksimal. Cepat atau lambatnya banyak hal mempengaruhi operasi. Kita harus menilai secara obyektif,” ucapnya.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi, seperti keadaan cuaca dan medan. Keadaan cuaca yang buruk di lokasi dan sekitarnya sangat mempengatuhi cepat-lambatnya operasi SAR.
"Gunung Salak itu cuacanya susah ditebak, medan titik lokasi juga terjal dan sulit. Coba deh lihat di berbagai media yang menggambarkan susah-payahnya tim untuk mencapai titik lokasi dan mengevakuasi korban,” jelas pria yang akrab disapa Bang Adi.
Meskipun demikian, seluruh tim yang terlibat sudah berusaha semaksimal mungkin. Tersebarnya puing-puing pesawat dan korban membuat pencarian membutuhkan waktu. “Mereka orang-orang yang terlatih kok dan personil yang terjun juga banyak. Fasilitas yang mendukung operasi juga sudah disediakan. Cuma memang keadaan korban yang tersebar juga membuat proses pencarian jadi lama,” imbuhnya.
Selain itu, ditambahkannya, keadaan tersebut menyulitkan pencarian dan dapat mengakibatkan stress bagi personil. “Itu dapat membahayakan keselamatan personil. Mereka bertaruh nyawa juga untuk keberhasilan operasi,” tegasnya.
Ia berharap, operasi ini berjalan lancar dan segera selesai sesuai dengan harapan berbagai pihak. “Operasi ini akan dihentikan setelah pernyataan dikeluarkan oleh pimpinan tertinggi operasi SAR. Semoga operasi ini berjalan lancar sesuai target,” tandasnya.
Seperti diketahui, Pesawat Sukhoi Superjet 100 yang sedang melakukan joy flight hilang kontak di kawasan Gunung Salak, Bogor, 9 Mei 2012 lalu. Sehari setelahnya dipastikan pesawat buatan Rusia itu jatuh di lereng Gunung Salak. Badan pesawat pecah berkeping-keping. Dalam pesawat tersebut, terdapat 45 penumpang, 8 di antaranya merupakan kru asal Rusia. (dan)