HIMPALAUNAS.COM, SUKABUMI – Curug Cigangsa, sudah sesuai rencana memang untuk menyambangi air terjun yang berada di kawasan Sukabumi, Jawa Barat, untuk mengisi akhir pekan setelah beraktifitas penuh jadwal yang ketat di Jakarta.
Sabtu sore, Saya berangkat dari Jakarta menggunakan bus antar kota dari Terminal Kampung Rambutan. Hujan rintik-rintik mengiringi perjalanan menuju salah satu kota yang cukup sejuk di Jawa Barat. Agak malam bus yang kosong dari penumpang tiba di kota kelahiran artis Desi Ratnasari ini.
Menikmati malam di kota ini pantang untuk dilewatkan. Untung sempat tertidur beberapa jam dalam perjalanan dari Jakarta sudah cukup menjadi ‘bekal’ melewati malam panjang sambil menikmati kopi dan makanan ringan di warung sekitar terminal Sukabumi.
Matahari mulai terbit, setelah sarapan, perjalanan menuju salah satu air terjun yang cukup indah dilanjutkan. Menurut informasi yang saya dapat dari penjual kopi di warung sekitar terminal, Curug Cigangsa berjarak sekitar 110 kilometer ke arah selatan kota Sukabum atau 1 km dari kecamatan Surade. Jika dari Curug Cikaso sekitar hanya 10 km dengan memakan waktu sekitar 30 menit dengan berjalan kaki.
Kendaraan umum yang saya tumpangi berhenti dan diparkir di salah satu rumah warga. Setelah beristirat sejenak, perjalan dilanjutkan dengan berjalan kaki menyusuri pematang sawah dan menyeberangi sungai menuju lokasi curug dengan waktu tempuh sekitar 10 menit sampai di bagian atas Curug Cigangsa.
Tepatnya, lokasi curug ini terletak di Desa Batusuhunan/Pasiripis, Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi, Propinsi Jawa Barat. Dari peta yang Saya bawa dan koordinat General Positioning System (GPS), terekam pada posisi 7° 19' 35.36" S 106° 32' 35.54" E.
Curug Cigangsa juga dapat ditempuh melalui pertigaan tugu kota Surade. Mengherankan memang, selama perjalanan, Saya tidak melihat tanda arah sama sekali untuk mencapai ke lokasi.
Untuk mencapai lokasi ini cukup sulit karena harus melewati jalan setapak yang jalanannya cukup menantang dan menyebrangi sungai yang airnya cukup deras. Namun, ini yang menjadikan perjalanan ke air terjun tersebut bertambah mengasikan.
Bila ingin menikmati keindahannya dari bawah tebing harus menuruni lereng yang cukup curam dengan kondisi jalan yang licin dan becek. Waktu yang dibutuhkan untuk turun ke bawah sekitar 20 menit.
Setibanya di lokasi, perjalanan yang cukup melelahkan terbayar dengan panorama indah di lokasi Curug Cigangsa. Air terjun ini terdiri dari dua tingkat dan diperkirakan terbentuk akibat gempa yang cukup kuat sehingga mengakibatkan longsor.
Curug ini memiliki debit air yang kecil, hal ini dikarenakan di bagian hulunya dibendung untuk keperluan irigasi. Keunikan lain dari Curug Cigangsa adalah dinding batunya berwarna kehitaman sebagai landasan air mengalir.
Menurut penduduk stempat, nama Gangsa ini diambil dari nama orang, Eyang Gangsa. Selain itu, tempat ini semasa penjajahan Belanda kerap kali dijadikan tempat persembunyian para pejuang. Di kawasan ini juga terdapat Curug Ciruti yang mana membutuhkan waktu sekitar 1/2 jam perjalanan dari Curug Cigangsa.
Di sekitar lokasi ini terdapat sebuah batu. Batu ini oleh masyarakat setempat menyebutnya dengan batu Masigit, atau Batu Masjid, barangkali karena bentuknya. Di Curug Cigangsa ini pengunjung dapat menikmati keindahan curug dari dua arah, yaitu dari atas dan bawah.
Hmmmmm…perjalanan akhir pekan yang ‘segarkan’ kepala yang penat akibat aktifitas kerja dan kehidupan metropolitan yang menjenuhkan. (dns)