HIMPALAUNAS.COM, BANDUNG - Cuaca buruk yang terjadi di Indonesia ternyata bukan akibat dari badai matahari. Sebab, dampak badai matahari baru akan terasa pada 13 tahun mendatang. Dampak buruknya berupa sejumlah satelit yang tak berfungsi dan keluar dari orbitnya.
Demikian dikatakan peneliti fisika matahari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Agustinus Gunawan di Bandung Jawa Barat. Menurutnya, cuaca ekstrem sebagai akibat dinamika aktivitas bumi dan bersifat lokal.
Meski demikian ia tak memungkiri puncak aktivitas matahari terjadi pada 2012. Aktivitasnya masih kecil dan akan terus terjadi hingga dua tahun ke depan.
Namun kejadian itu tak sebesar badai matahari yang terjadi pada tahun 2001. Pada 24 Januari 2012, ledakan atau aktivitas gesekan di matahari. Partikelnya jatuh di kutub utara.
Dampak terburuk terjadi pada sejumlah satelit. Jadi masyarakat dunia tak perlu khawatir dengan isu yang menyatakan badai matahari akan merusak dan membahayakan kehidupan. (man)