Langsung ke Topik Utama
Banner Iklan

Buya Hamka, Sastrawan dengan Segudang Karya

22 April 2012 oleh Redaksi   di:

Buya Hamka, Sastrawan dengan Segudang Karya

HIMPALAUNAS.COM, JAKARTA - Sastrawan, ulama, ahli filsafat, dan aktivis politik ini telah meninggalkan karya tulis segudang serta nuansa Islaman yang dibawa olehnya pun mendapat banyak pujian.

Tulisan-tulisannya meliputi banyak bidang kajian diantaranya politik (Pidato Pembelaan Peristiwa Tiga Maret, Urat Tunggang Pancasila), sejarah (Sejarah Ummat Islam, Sejarah Islam di Sumatera), budaya (Adat Minangkabau Menghadapi Revolusi), akhlak (Kesepaduan Iman & Amal Salih ), dan ilmu-ilmu keislaman (Tashawwuf Modern).

Kitab Tafsir Al-Azhar merupakan karya gemilangnya. Tafsir Al-Quran 30 juz itu salah satu dari 118 lebih karya yang dihasilkan olehnya semasa hidup. Tafsir tersebut dimulainya tahun 1960.

Dialah Prof. Dr. H. Abdul Malik Karim Amrullah atau lebih dikenal Buya Hamka. Lahir pada 17 Februari 1908 di Maninjau, Suamtera Barat. Nama Hamka yang merupakan kepanjangan dari namanya dan Buya yaitu panggilan untuk orang Minagkabau yang berasal dari kata abi, abuya dalam bahasa Arab yang berarti ayahku, atau seseorang yang dihormati.

Hamka merupakan salah satu orang Indonesia yang paling banyak menulis dan menerbitkan buku. Oleh karenanya Ia dijuluki sebagai Hamzah Fansuri di era modern. Bahkan berkat karyanya Ia dikenal seantero Nusantara, termasuk Malaysia dan Singapura.

Ayahnya adalah Haji Abdul Karim bin Amrullah, yang merupakan pendiri Sumatera Thawalib di Padang Panjang. Sementara ibunya adalah Siti Shafiyah Tanjung. Dalam silsilah Minangkabau, Ia berasal dari suku Tanjung, sebagaimana suku ibunya.

Ia mendapat pendidikan rendah pada usia 7 tahun di Sekolah Dasar Maninjau selama dua tahun. Ketika usianya mencapai 10 tahun, ayahnya mendirikan Sumatera Thawalib di Padang Panjang. Di situ Hamka kemudian mempelajari agama dan mendalami bahasa Arab. Melalui sebuah perpustakaan yang dimiliki oleh salah seorang gurunya, Engku Dt. Sinaro, bersama dengan Engku Zainuddin, Ia diizinkan untuk membaca buku-buku yang ada diperpustakaan tersebut, baik buku agama maupun sastra.

Hamka mulai meninggalkan kampung halamannya untuk menuntut ilmu di Pulau Jawa, sekaligus ingin mengunjungi kakak iparnya, Ahmad Rasyid Sutan Mansur yang tinggal di Pekalongan, Jawa Tengah. Untuk itu, Hamka kemudian ditumpangkan dengan Marah Intan, seorang saudagar Minangkabau yang hendak ke Yogyakarta.

Sesampainya di Yogyakarta, Ia tidak langsung ke Pekalongan. Untuk sementara waktu, Ia tinggal bersama adik ayahnya, Ja’far Amrullah di kelurahan Ngampilan, Yogyakarta. Barulah pada tahun 1925, ia berangkat ke Pekalongan, dan tinggal selama enam bulan bersama iparnya, Ahmad Rasyid Sutan Mansur.

Pria yang wafat pada 24 Juli 1981  merupakan seorang wartawan, penulis, editor dan penerbit. Sejak tahun 1920-an, Ia menjadi wartawan beberapa surat kabar seperti Pelita Andalas, Seruan Islam, Bintang Islam dan Seruan Muhammadiyah. Pada tahun 1928, Ia menjadi editor majalah Kemajuan Masyarakat. Pada tahun 1932, ia menjadi editor dan menerbitkan majalah al-Mahdi di Makasar. Buya Hamka juga pernah menjadi editor majalah Pedoman Masyarakat, Panji Masyarakat dan Gema Islam.

Pada tanggal 5 April 1929, Hamka dinikahkan dengan Siti Raham binti Endah Sutan, yang merupakan anak dari salah satu saudara laki-laki ibunya. Dari perkawinannya dengan Siti Raham, ia dikaruniai 11 orang anak. Mereka antara lain Hisyam, Zaky, Rusydi, Fakhri, Azizah, Irfan, Aliyah, Fathiyah, Hilmi, Afif, dan Syakib. Setelah istrinya meninggal dunia, satu setengah tahun kemudian, Ia menikah lagi dengan seorang perempuan bernama Hj. Siti Khadijah.

Kesempatan untuk melawat ke berbagai negara daratan Arab tak Ia lewatkan. Sepulang dari lawatan itu, ia menulis beberapa roman. Antara lain Mandi Cahaya di Tanah Suci, Di Lembah Sungai Nil, dan Di Tepi Sungai Dajlah. Sebelum menyelesaikan roman-roman di atas, Ia telah membuat roman yang lainnya.

Seperti Di Bawah Lindungan Ka’bah, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Merantau ke Deli, dan Di Dalam Lembah Kehidupan merupakan roman yang mendapat perhatian umum dan menjadi buku teks sastera di Malaysia dan Singapura. Setelah itu Ia menulis lagi di majalah baru Panji Masyarakat yang sempat terkenal karena menerbitkan tulisan Bung Hatta berjudul Demokrasi Kita.

Atas jasa dan karya-karyanya, pria yang mendapat gelar Pahlawan Nasioanal Indonesia tahun 2011 ini telah menerima anugerah penghargaan, yaitu Doctor Honoris Causa dari Universitas al-Azhar Cairo (tahun 1958), Doctor Honoris Causa dari Universitas Kebangsaan Malaysia (tahun 1958), dan Gelar Datuk Indono dan Pengeran Wiroguno dari pemerintah Indonesia.
 
Pandangan sastrawan, Ia yang juga dikenal sebagai Tuanku Syekh Mudo Abuya Prof. Dr. Haji Abdul Malik Karim Amrullah Datuk Indomo tentang kepenulisan. Buya Hamka menyatakan ada empat syarat untuk menjadi pengarang. Pertama, memiliki daya khayal atau imajinasi; kedua, memiliki kekuatan ingatan; ketiga, memiliki kekuatan hapalan; dan keempat, memiliki kesanggupan mencurahkan tiga hal tersebut menjadi sebuah tulisan. (dari berbagai sumber/Sadam Pratama/fir)

Share this Sebarkan
Powered by Jaringmaya.Com